081806696986 liveindonesia.id@gmail.com

BUKAN HANYA BATIK, INILAH KAIN TRADISIONAL ASLI INDONESIA YANG MENDUNIA

Bangsa Indonesia terkenal dengan beragam kain dengan berbagai corak, yang memiliki daya tarik tersendiri. Berkat keberagaman tersebut, kain-kain di Indonesia pun dapat mendunia. Salah satunya adalah batik.

Namun tahukah kalian, bahwa tak hanya batik saja yang sudah mendunia. Ada pula berbagai kain lainnya dari beberapa daerah, yang juga terkenal dan mendunia. Penasaran apa saja kain cantik khas Indonesia yang mendunia? Yuk, kenali satu per satu ragam kain dalam negeri yang sangat mengagumkan.

Tenun Ulap Doyo

Ulap doyo merupakan jenis tenun ikat berbahan serat daun doyo (Curliglia latifolia). Daun ini berasal dari tanaman sejenis pandan yang berserat kuat dan tumbuh secara liar di pedalaman Kalimantan, salah satunya di wilayah Tanjung Isuy, Jempang, Kutai Barat.

Secara umum, motif dalam kain ulap doyo terinspirasi flora dan fauna yang ada di tepian Sungai Mahakam atau tema peperangan antara manusia dengan naga. Motif yang terdapat pada kain pun menjadi identitas si pemakai. Motif waniq ngelukng, misalnya, yang digunakan oleh masyarakat biasa, sedangkan motif jaunt nguku digunakan kalangan bangsawan atau raja. Pembedaan strata sosial ini mengindikasikan adanya sistem kasta yang berlaku dalam masyarakat, seperti yang terdapat pada Hindu.

Proses pembuatan tenun ulap doyo diwariskan secara turun temurun melalui suatu proses yang unik. Kaum wanita Dayak Benuaq mulai menguasai proses pembuatan tenun ini sejak usia belasan tahun secara spontan, tanpa melalui proses latihan. Mereka menguasai tehnik ini hanya dengan melihat proses kerja para wanita yang lebih tua seperti ibu dan sesepuh mereka secara berulang-ulang. Karena transfer keterampilan yang berlangsung secara unik ini, hampir dipastikan sulit menemukan orang yang menguasai tehnik tenun ulap doyo di luar Suku Dayak Benuaq.

Harga yang ditawarkan pun mulai dari Rp300 ribu hingga Rp1 juta.

Tenun Ikat Ende

Tenun ikat Ende-Lio berkaitan erat dengan tradisi, ritual adat, penghormatan terhadap sang pencipta, hajatan serta tradisi menenun tenun ikat Ende-Lio sebagai mata pencaharian pemenuhan kebutuhan hidup.

Tenun ikat Ende-Lio pada suku Ende-Lio berperan sebagai pakaian kebesaran pada saat ritual/upacara adat, upacara penghormatan pada sang pencipta, seserahan saat ada hajatan , bukti kemampuan ketrampilan menenun persyaratan anak gadis untuk menikah, barang jaminan, busana kebesaran, memakaikan pada anak dan mantu, pakaian perang suku, serta sebagai barang dagangan, dan sebagainya.

Pembuatannya membutuhkan waktu sekitar 2-4 minggu. Kain ini telah menjadi simbol cendera mata bagi turis lokal untuk dibawa ke negaranya. Pembuatan yang cukup lama dan membutuhkan keterampilan membuat kain ini dipatok mulai dari Rp500 ribu hingga Rp1 juta.

Songket Pandai Sikek

Kain songket merupakan kain tradisional yang berasal dari Sumatera Barat. Sedangkan songket yang cukup populer, yaitu Songket Padai Sikek di mana Padai Sikek merupakan nama daerah kain tersebut dibuat.

Pandai Sikek merupakan salah satu nagari di Kecamatan Sepuluh Koto, Tanah Datar, Sumatera Barat. Nagari ini telah dikenal dengan kekhasan motif songket yang dimilikinya sejak masa lampau. Kekhasan motif tersebut diwariskan secara turun temurun sehingga tetap lestari hingga kini. Karena kekayaan tradisi tenun songket yang amat kuat, Pemerintah RI mengabadikan eksistensi tenun songket dari Pandai Sikek sebagai gambar pada mata uang pecahan Rp5.000.

Tenun songket di Sumatera umumnya diasosiasikan sebagai salah satu peninggalan budaya dari periode kejayaan Sriwijaya. Karena itulah, tenun songket pada masa lalu identik sebagai simbol kemewahan, status sosial, dan martabat penggunanya. Menurut catatan sejarah, pembuatan tenun songket pada masa lalu menggunakan benang emas asli. Hal ini membuat tenun songket tidak saja bernilai tinggi dari segi estetika, tetapi juga nilai intrinsiknya.

Pembuatannya pun memakan waktu berminggu-minggu ataupun berbulan-bulan. Harganya pun beragam. Mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Kain Gringsing Bali

Makna dari Gringsing sendiri berasal dari kata gring yang artinya sakit dan sing artinya tidak, jadi Gringsing artinya tidak sakit atau terhindar dari sakit. Lain itu, mengandung makna sebagai penolak bala, yaitu mengusir penyakit yang bersifat rohani. Masyarakat percaya bahwa Kain Gringsing memiliki kekuatan magis yang dapat melindungi diri dari musibah.

Kain Gringsing memiliki keunikan yakni, proses pembuatannya dari awal hingga akhir mengerjakan menggunakan tangan dan tidak sedikitpun menggunakan mesin dalam pengerjakannya. Untuk mengerjakan sehelai Kain Gringsing ini menghabiskan waktu hingga 5 tahun, itu yang membuat Kain Gringsing menjadi cukup mahal ketika dijual. sebagai gambaran, selembar Kain Gringsing dibanderol Rp900 ribu hingga jutaan rupiah.

Kain Ulos Batak

Sesuai namanya, kain ini berasal dari Batak yang melambangkan ikatan kasih sayang kepada sesama. Kain ini sering digunakan untuk menghadiri upacara adat saja, tetapi sekarang kain tersebut telah mendunia terbukti yang dilakukan oleh designer kreatif untuk membuat karya besar mereka.

Secara tradisional, menenun kain ulos itu merupakan tugas kaum wanita. Masyarakat setempat meyakini bahwa proses menenun sangat erat kaitannya dengan peran perempuan dalam merawat keluarga, anak, dan masyarakat. Biasanya, proses menenun hanya dilakukan di waktu senggang saja. Tak heran, untuk menghasilkan satu kain ulos, terkadang membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Kain ulos biasanya menggunakan benang kapas dan diwarnai dengan cara merendam benang ke dalam pewarna alami yang berasal dari tanaman. Warna biru terbuat dari tanaman indigo, warna merah dari kayu secang dan mengkudu, warna kuning berasal dari kunyit, sedangkan hitam dihasilkan dengan mencampurkan mengkudu dengan indigo, serta hijau adalah campuran indigo dan kunyit.

Kain ini sering digunakan sebagai cendera mata yang berkunjung ke Sumatra Utara. Harganya pun cukup fantastis, hingga mencapai jutaan rupiah.

Nah, itulah berbagai jenis kain khas daerah di Indonesia yang mendunia.

Sumber

http://www.indonesiakaya.com

https://www.goodnewsfromindonesia.id/

https://www.indonesia.travel/