081806696986 liveindonesia.id@gmail.com

CERITA DI BALIK TEKO BLIRIK DAN GELAS LORENG

Pernahkah kalian melihat atau mendengar tentang teko blirik? Itu lho  teko yang bermotif batik berwarna hijauh putih yang legendaris itu. Teko blirik biasanya dijuluki teko loreng, karena motifnya seperti warna seragam militer.

Keberadaan teko ini dan gelas berloreng hijau putih yang diberi nama teko blirik ini memiliki sejarah yang sangat panjang di Indonesia. Dimulai dari sebuah simbol ‘’kejayaan’’ kolonialisme Hindia Belanda, lalu menjadi bentuk perlawanan petani, sampai kini justru menjadi ikon dan barang antik yang mulai jarang ditemui.

Teko blirik diperkirakan sudah ada sekitar Tahun 1830 ( masa penjajahan ). penggunaan teko blirik pada awalnya mulai digunakan di Indonesia setelah perang Diponegoro yang terjadi pada tahun 1830. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan, pasukan kolonial Belanda konon menjadi jemawa hingga mulai menyebarluaskan identitas kekuatannya di tanah Jawa. Dan keberadaan teko dan gelas blirik menjadi salah satu identitas yang dibawa oleh Belanda kala itu.

Agen teko blirik yang pertama kali membawa itu ke Hindia Belanda adalah pedagang asal Belanda kelahiran Belgia bernama Jan Mooijen. Dia membuka agen penjualan teko blirik pertamanya pada tahun 1845. Sejak saat itu penjualan teko blirik mulai menyebar di tanah Jawa, banyak orang Belanda yang sengaja membeli teko ini untuk diberikan dan digunakan oleh kalangan buruh petani.

Ya, teko blirik itu sengaja dijadikan identitas yang membedakan antara kaum kalangan bawah—yaitu buruh orang Nusantara—dengan kalangan atas atau bangsawan Belanda yang memiliki banyak buruh. Apalagi kala itu budaya minum teh orang Eropa diadaptasi juga oleh para pekerja buruh tani.

Identitas buruh yang dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda itu bertahan hingga tahun 1908. Diketahui kala itu teko blirik juga dijadikan salah satu ikon dan identitas Hindia Belanda di Pasar Gambir. Sejak saat itu, Pasar Gambir dijadikan pasar malam yang menyediakan berbagai wahana permainan dan kios-kios kecil tempat menjual jajanan, kerajinan tangan, dan yang utama adalah teko dan gelas blirik.

Hingga pada akhirnya para buruh tani menyadari penindasan belanda yang kian menjadi, Teko Blirik akhirnya dijadikan simbol perlawanan buruh tani terhadap belanda. Penggunaan teko blirik tidak hanya ditemukan dikalangan buruh, melainkan orang-orang yang turut membela kaum buruh tani pun turut ikut menggunakan teko blirik.

Puncaknya terjadi pada  tahun 1921 dimana pada saat itu terjadi pergerakan masa di Semarang, ada gerakan buruh yang menggunakan teko blirik sebagai symbol perjuangannya, selain ‘Caping Keroak’ yang juga dijadikan symbol perjuangan kaum buruh.

Popularitas teko blirik terjadi pada Tahun 1960 an dimana setiap rumah bisa dikatakan menggunakan teko tersebut sebagai salah satu perlengkapan perabot rumah tangga.

Pada 1990, pasar menjungkalkannya teko blirik. Alasannya sederhana, produk yang murah dan sama gunanya, pasti akan diburu konsumen, walau kualitasnya berbeda.

Sulitnya teko blirik bersaing, membuat teko berbahan plastik yang lebih murah, mulai dipajang di etalase toko dan menjadi pilihan masyarakat di kemudian hari.

Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/sejarah-teko-blirik-dari-identitas-belanda-sampai-jadi-simbol-perjuangan-petani

https://era.id/sejarah/sejarah-di-balik-teko-blirik-atau-gelas-loreng-yang-melegenda

http://wartajowo.blogspot.com/sejarah-teko-blirik-ceret-blirik-dan-6.html