081806696986 liveindonesia.id@gmail.com

KEDIH, PRIMATA BERWAJAH SEDIH ASAL SUMATERA

Indonesia dikarunia kekayaan alam yang melimpah. Di dunia, Indonesia menduduki urutan kedua kekayaan akan flora dan fauna. Kali ini, satu lagi fauna endemik yang patut Anda ketahui. Adalah monyet Kedih, primata yang aslinya hanya terdapat di Pulau Sumatera, khususnya Sumatera Utara. Hewan ini termasuk dalam daftar hewan langka dan nyaris punah. Satwa dari ordo primata ini memiliki nama latin Presbytis Thomasi atau nama latin umum lebih dikenal dengan Thomas Leaf Monkey. Sebutan lokalnya sendiri memiliki bermacam-macam nama, ada yang menyebutnya dengan nama lutung rungka, bodat atau kek-kia. Namun menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia nama primata ini umumnya disebut Monyet Kedih.

Kedih (Reungkah ) adalah sejenis monyet atau lutung berekor panjang yang sebagian hidup terrestrial (diatas tanah) dan memiliki panjang badan antara 420 – 610 mm, ekor berukuran 500 – 850 mm dan berat antara 5.0 – 8.1 kg.Tubuh bagian atas berwarna abu – abu atau kehitaman dan bagian berwarna putih,ada jambul yang jelas diatas kepala dan bercak putih didahi.Pipi berwarna gelap,tangan dan kaki hitam.

Dengan mempunyai habitat di hutan tropis, Kedih biasanya hidup berkelompok dengan jumlah sekitar sepuluh ekor, meliputi satu jantan dan enam betina ditambah dengan beberapa anak-anaknya.

Seperti jenis hewan kebanyakan, si Kedih jantan selalu melindungi kelompoknya dari ancaman hewan lain ataupun dari intervensi Kedih jantan lainnya. Monyet Kedih jenis betina biasanya dapat melahirkan sepanjang tahun.

Selain wajahnya yang unik seakan berparas sedih, monyet Kedih juga mempunyai perilaku yang unik, salah satunya yaitu suara vokal yang kuat. Dengan suaranya yang besar, setiap kelompok Kedih dapat mengenali anggota kelompok masing-masing dengan suara vokalnya tersebut.

Biasanya, pada malam hari sering terdengar suara monyet Kedih yang bersaut-sautan guna mengumpulkan para anggotanya setelah mereka menjelajah area hutan.

Makanan utama Kedih adalah buah-buahan, daun, serangga, dan bunga cabang. Jenis daun yang biasa dikonsumsi Kedih di antaranya Gnetum latifollum, Paranephelium nitidum, dan Quercus sp. Sedangkan jenis tumbuhan buah yang dikonsumsi diantaranya Dysoxylum spp, Cnestis platantha, dan Scorodocarpus borneensis.

Tidak hanya mengonsumsi berbagai makanan, Kedih juga mengonsumsi air yang diperoleh dari makanan. Tapi terkadang, Kedih meminun air dari lubang pohon atau sungai yang ada di sekitar hutan.

Kedih yang dapat dijumpai pada cabang tengah pohon bahkan di tanah ini memiliki kegiatan rutin pada siang hari, yaitu beristirahat dengan tidur siang di atas cabang pohon.

Tempat tidur Kedih pada malam hari biasanya di pohon yang tinggi mendekati pucuk, sementara tempat tidur pada siang hari umumnya di antara cabang pohon yang rimbun.

Di hutan, dengan banyaknya hewan buas, Kedih menjadi tangkapan dari beberapa hewan, seperti macan kumbang (Neofelis nebulosa), Harimau (Panthera tigris), dan ular piton (Python reticulatus).

Meskipun menjadi tangkapan bagi hewan buas, Kedih cukup pintar untuk bisa menghindar dari tangkapan hewan buas tersebut.

Monyet Kedih sangat membantu regenerasi tumbuhan hutan, terutama dalam menyebarkan biji buah hutan. Tapi sayangnya, keberadaan monyet Kedih kian terancam akibat kerusakan hutan.

Kedih pertama kali ditemukan di Aceh dan bagian utara Pulau Sumatera yang berada tidak jauh dari Sungai Wampu dan Simpangkiri.

Penyebaran Monyet Kedih juga dapat ditemukan di kawasan hutan Aek Nauli sampai Suaka Marga Satwa Rawa Singkil di Nangroe Aceh Darussalam.

Menurut data penelitian, penyebaran Kedih yang paling banyak populasinya berada di Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, terutama di Bahorok dan Ketambe.

Sumber

https://www.goodnewsfromindonesia.id/kedih-monyet-berjambul

http://www.gosumatra.com/monyet-kedih-sumatera/

https://penyutadventure.wordpress.com/kedih-reungkah/

https://www.adzkia.net/monyet-kedih-primata-berwajah-sedih-dari-sumatera/