081806696986 liveindonesia.id@gmail.com

MEUGANG, TRADISI MENJELANG RAMADHAN MASYARAKAT ACEH

Meugang, sebuah tradisi yang menjadi warisan budaya masyarakat Aceh untuk menyambut bulan suci Ramadan yang tahun ini dihadapkan dengan situasi yang tidak seperti biasanya. Di tengah pandemi virus corona (Covid-19), tradisi ini diprediksi tidak akan seramai tahun-tahun sebelumnya.

Tradisi meugang–yang sudah ada sejak ratusan tahun itu–identik dengan makan daging sapi atau kerbau bersama, yang diolah dengan beraneka ragam masakan. Untuk mengikuti tradisi itu, warga tidak peduli dengan harga daging yang melambung tinggi hingga 50 persen dari harga normalnya.

Fenomena yang cukup menarik pada hari Meugang di mana para pembeli tidak terpatok hanya kaum ibu, tapi juga bapak-bapak. Dalam tradisi ini tidak ada tawar-menawar, harga sesuai kemauan si pedagang, pun gengsi pembeli tetap bermain di sini. Karena daging wajib dibawa pulang, entah untuk menyenangkan istri, mertua, atau anak-anak di rumah.

Setelah daging dibeli, para ibu rumah tangga di Aceh akan masak besar. Daging-daging tersebut diolah menjadi kari atau rendang atau lainnya kemudian akan disantap keluarga atau disediakan kepada tamu saat hari halal bihalal.

Melansir kompas selain sebelum Ramadhan, masyarakat Aceh juga merayakan meugang pada saat menyambut Idul Fitri dan Idul Adha. Sebagai daerah yang mayoritas penduduknya memeluk Islam, tradisi meugang disebut punya kaitan erat dengan pengamalan ajaran agama.

dalam meugang terdapat ruh nilai-nilai keislaman. Terkhusus saat Ramadhan, masyarakat yang merayakannya dimaknai sebagai sebuah bentuk suka cita dan kesiapan dalam menyambut datangnya bulan penuh berkah tersebut.

Selain itu, meugang juga dinilai sebagai ajang untuk bersedekah kepada fakir miskin, janda dan anak yatim, serta orang jompo. Sedekah dalam meugang dibagi menjadi dua macam, yakni sedekah dalam bentuk daging mentah seberat setengah hingga satu kilogram, dan memberi makan berupa masakan daging.

Menurut masyarakat setempat, merayakan meugang bukanlah suatu kewajiban, melainkan sebuah keharusan. Oleh karena itu, setiap lapisan masyarakat akan tetap merayakan meugang, bagaimana pun kondisinya. Bagi yang tidak bisa membeli daging sapi atau lembu, bisa menggantinya dengan menyembelih ayam maupun bebek.

SUMBER

https://regional.kompas.com

https://www.liputan6.com

https://www.cnnindonesia.com